"Happy Annivessary, sayang", itu kata-kata yang baru aku terima melalui pesan singkat. Aku pun membalas pesan singkat tersebut "Happy Annivessary, sayang :) semoga selamanya bersama ya". Itulah hari jadi kita yang pertama, sudah setahun kita melewati masa susah dan senang bersama. Saat aku menjalani hari-hari bersama dengan dia, aku merasa menjadi perempuan yang sangat beruntung karena memiliki seseorang yang mengerti dengan semua kelebihan dan kekuranganku begitupun dengan dia. Hari jadi kami bertepatan dengan ulang tahun Galang, pacarku. Aku pun berniat memberikan suprise kepada Galang, dengan dibantu oleh sahabatku serta sahabat Galang juga. Setahu aku hari ini Galang tidak ada kegiatan apa-apa, dia hanya dirumah dan paling ke bengkel. Aku pun mengirim pesan kepada Galang "yang, kamu lagi dimana ?" setelah dua puluh menit Galang baru membalas pesan dari aku "aku di rumah". Haduh dia ada di rumah, berarti aku harus membuat dia pergi keluar sebentar agar aku bisa memberi suprise secara maksimal tanpa diketahui oleh dia. Aku pun membalas pesan dari Galang "yang , bentar lagi aku ke rumah kamu ya | aku mau ngajak kamu pergi keluar" tidak alam kemudian Galang membalas pesanku "mau kemana ?" tidak seperti biasanya Galang bertanya kalau aku ajak pergi, biasanya dia langsung mengatakan oke, aku jemput dimana. Aku bingung dan mencari alasan supaya dia bisa keluar rumah. Akhirnya aku mencari strategi lain karena Galang tidak mau kelkuar rumah karena dia lagi tidak enak badan. Aku, Dani, Devi, dan Dimas langsung meluncur ke rumah Galang. Aku sudah membawa sebuah kue dan kado Hari Jadi dan Ulang Tahun Galang. kurang lebih empat puluh menit, aku dan yang lainnya sampai di depan rumah Galang. Aku mengirim pesan kepada Galng aklau aku uda samapi di depan rumahnya. Tidak berapa lama Galang keluar rumah. Dia kaget karena bukan hanya aku yang ada di depan rumah melainkan dengan Dimas dan Doni, sahabatnya. Aku pun menghampiri Galang dan berkata "Heppi Birthday ya sayang, Happy Annivessary kita, Semoga kamu lebih sadar mengahdapi aku dan hubungan kita bisa selamanya" Galang pun diam seribu kata dan dia memeluk aku dengan perasaan sayang yang tulus.Aku terharu dan hampir saja menitikkan airmata, dia pun berkata "makasih ya sayang, maaf kalau aku tadi ga bisa pergi sama kamu. Aku sayang kamu". Devi, Doni, dan Dimas ahanya bisa tersenyum sambil sesekali menertawakan kita. Galang mengajak kita masuk ke dalam rumahnya, kebetulan rumahnya Galang lagi sepi karena orangtuanya lagi pergi ke rumah neneknya Galang di Bandung. Aku pun membantu Galang membuatkan minuman dan menyediakan makanan untuk Devi, Doni dan Dimas. Aku merasa malam ini adalah malam yang paling bahagia untuk kita semua dan khususnya untuk aku. Sebelum aku pulang, Galang menawarkan diri untuk mengantar aku pulang tapi aku tahu dia masih sakit ajdi aku diantar pulang oleh Dimas yang kebetulan satu arah denganku. "Galang, aku pulang sama Dimas aja ya. Aku takut kamu makin sakit, istirahat ya sayang" aku berkata sambil mencium pipinya Galang. Galang ahanya berkata "Makasih ya, hati hati di jalan sayang" dan memukul bahunya Dimas "Hati-hati bro bawa pacar gue" Dimas menjawab "Selow mas bro".
Aku pun pulang diantar oleh Dimas, kurang dari sejam aku sampai di depan rumah. Dimas pun langsung pulang karena dia masih ada urusan di luar. Setelah sampai di rumah, aku pun segera mengirim pesan kepada Galang mengabarkan kalau aku sudah sampai rumah "Galang, aku uda sampai rumah nih. kamu uda tidur belum?" beberapa menit Galang pun membalas pesan ku "iya alhamdulillah ya. aku baru aja mau tidur, kepala aku makin sakit yang". setelah membaca pesan dari Galang, aku sangat khawatir sekali dengan keadaan dia karena di rumahnya tidak ada siapa-siapa dan aku takut banget dia kenapa-kenapa. Aku pun tertidur karena Galang pun sepertinya sudah tertidur disana.
Tiga minggu kemudian setelah hari jadi pertama aku dan Galang, aku banyak mengalami kejadian yanng membuat aku curiga dan mulai ragu dengan Galang. Galang sudah jarangn menelepon dan mengirim pesan kepadaku, aku berusaha mengerti kesibukannya di kantor tapi aku benar-benar gelisah atas sikap dia. Aku merasa seperti jemuran yang digantung dan tidak diangkat. Aku berusaha mendiamkan dan berusaha biasa saja atas perubahan sikapnya dia tapi aku semakin penasaran. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengan dia dan Galang pun menyetujuinya. Kita bertemu di sebuah cafe, tempat biasa kita makan dan cafe ini adalah tempat pertama kali aku dan Galang memutuskan untuk menjalin suatu hubungan setahun yang lalu. Aku sengaja datang lebih awal dan mengambil posisi duduk di sudut cafe. Setengah jam kemudian, Galang datang dengan raut mukanya yang dingin seperti waktu pertama aku melihat dia. Galang menghampiriku dan duduk di depanku. Hening, itulah keadaan kita, dan kita hanya diam dan saling bertatapan sampai aku berani membuka mulutku dan bertanya kepada Galang "Lang, kamu kenapa ?, ada masalah apa ?, atau aku buat salah sama kamu ?" Galang hanya diam, tatapannya kosong. Rgaanya mungkin ada disini tapi aku tidak tahu jiwanya dimana. Aku memegang lengannya sambil mengulang kata-kataku sebelumnya. Galang menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dan dia pun mulai berani membuka mulutnya "Sebelumnya aku minta maaf atas keanehan aku selama tiga minggu ini, aku mendiamkan kamu tanpa sebab, aku gatau kenapa aku jadi dingin ke kamu padahal kita sudah jadian setahun lebih" jawaban Galang membuat aku sedih, airmata sudah tidak dapat terbendung lagi. Aku hanya diam sambil terus menangis. Galang yang tidak tega melihat kondisiku dan merasa sangat bersalah mulai memegang lenganku menenangkan aku dan mengusap airmataku tapi aku tetap menangis. Galang terllihat sangat bingung dia berusaha memelukku tapi aku semakin memberontak dan menangis, aku dengan suara parau mulai membuka mulut "aku salah apa lang ? apa kamu belum bisa melupakan Meta?" Galang kembali terdiam dan berfikir "kamu ga punya salah apa-apa, aku yanng salah. Jujur aku masih dihantui bayang-bayang Meta, aku merasa ga normal semenjak putus dari Meta dua tahun lalu". Perlu kalian ketahui, Meta adalah mantan pacar Galang. Dua tahun yang lalu mereka berpisah karena Meta lebih memilih pria yang lebih segalanya baik dari moril maupun materiil dibanding Galang. Galang benar-benar terpukul atas kepergian Meta, perempuan yang dipacarinya selama empat tahun. Galang memang sudah menceritakan semuanya itu kepadaku saat pertama kali kita saling mengenal tapi aku tidak tahu kalau hubungan kita akan berakhir karena masalah Meta. Setelah berbicara dan kesepakatan bersama, aku memutuskan untuk break sampai dia benar-benar bisa melupakan Meta. Jujur aku sakit banget tapi aku akan lebih sakit bila meneruskan suatu hubungan dengan orang yang masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Aku pun langsung pulang sambil menangis, Galang berusaha mengejar aku tapi aku lebih memilih untuk pulang naik taxi dibanding pulang bersama dia.
Sesampai di rumah, aku langsung masuk kamar. Rasanya aku pengen banget teriak sekencang-kencangnya, aku merasa tidak adil karena orang yang paling aku sayang dan mengerti aku selama ini adalah orang yang membuat hati aku sakit.
Setelah keputusan aku dan Galang buat dua hari yang lalu, sungguh membuat hatiku hampa, kosong dan benar-benar tak berdaya. Aku belum terbiasa hidup tanpa Galang, aku sangat kangen. Tanpa terasa airmataku menetes lagi saat mengingat kenangan kita berdua. Galangn pun di tempat lain sudah mulai disibukan dengan aktivitasnya di dunia Perbankan. Aku pun juga menjalani hari-hariku sebagai seorang mahasiswi tapi aku merasa ada yang kurang, perhatian Galang dan semua larangan dia kalau aku berbuat yang macem-macem. Aku pengen sekali untuk mengirim pesan kepada Galang , walau hanya untuk sekedar mengingatkan dia amakn, atau say hello tapi tangan ini terasa berat untuk melakukan itu. Aku tersiksa, aku benar-benar tersiksa. Pengen teriak aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!
Galang pun membuat status "aku bukan pelampiasanmu disaat dia tidak ada", aku tahu banget status ini untuk siapa. Aku tidak tahu siapa yang dibodohi perasaannya oleh cinta.
Aku pun pulang diantar oleh Dimas, kurang dari sejam aku sampai di depan rumah. Dimas pun langsung pulang karena dia masih ada urusan di luar. Setelah sampai di rumah, aku pun segera mengirim pesan kepada Galang mengabarkan kalau aku sudah sampai rumah "Galang, aku uda sampai rumah nih. kamu uda tidur belum?" beberapa menit Galang pun membalas pesan ku "iya alhamdulillah ya. aku baru aja mau tidur, kepala aku makin sakit yang". setelah membaca pesan dari Galang, aku sangat khawatir sekali dengan keadaan dia karena di rumahnya tidak ada siapa-siapa dan aku takut banget dia kenapa-kenapa. Aku pun tertidur karena Galang pun sepertinya sudah tertidur disana.
Tiga minggu kemudian setelah hari jadi pertama aku dan Galang, aku banyak mengalami kejadian yanng membuat aku curiga dan mulai ragu dengan Galang. Galang sudah jarangn menelepon dan mengirim pesan kepadaku, aku berusaha mengerti kesibukannya di kantor tapi aku benar-benar gelisah atas sikap dia. Aku merasa seperti jemuran yang digantung dan tidak diangkat. Aku berusaha mendiamkan dan berusaha biasa saja atas perubahan sikapnya dia tapi aku semakin penasaran. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengan dia dan Galang pun menyetujuinya. Kita bertemu di sebuah cafe, tempat biasa kita makan dan cafe ini adalah tempat pertama kali aku dan Galang memutuskan untuk menjalin suatu hubungan setahun yang lalu. Aku sengaja datang lebih awal dan mengambil posisi duduk di sudut cafe. Setengah jam kemudian, Galang datang dengan raut mukanya yang dingin seperti waktu pertama aku melihat dia. Galang menghampiriku dan duduk di depanku. Hening, itulah keadaan kita, dan kita hanya diam dan saling bertatapan sampai aku berani membuka mulutku dan bertanya kepada Galang "Lang, kamu kenapa ?, ada masalah apa ?, atau aku buat salah sama kamu ?" Galang hanya diam, tatapannya kosong. Rgaanya mungkin ada disini tapi aku tidak tahu jiwanya dimana. Aku memegang lengannya sambil mengulang kata-kataku sebelumnya. Galang menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dan dia pun mulai berani membuka mulutnya "Sebelumnya aku minta maaf atas keanehan aku selama tiga minggu ini, aku mendiamkan kamu tanpa sebab, aku gatau kenapa aku jadi dingin ke kamu padahal kita sudah jadian setahun lebih" jawaban Galang membuat aku sedih, airmata sudah tidak dapat terbendung lagi. Aku hanya diam sambil terus menangis. Galang yang tidak tega melihat kondisiku dan merasa sangat bersalah mulai memegang lenganku menenangkan aku dan mengusap airmataku tapi aku tetap menangis. Galang terllihat sangat bingung dia berusaha memelukku tapi aku semakin memberontak dan menangis, aku dengan suara parau mulai membuka mulut "aku salah apa lang ? apa kamu belum bisa melupakan Meta?" Galang kembali terdiam dan berfikir "kamu ga punya salah apa-apa, aku yanng salah. Jujur aku masih dihantui bayang-bayang Meta, aku merasa ga normal semenjak putus dari Meta dua tahun lalu". Perlu kalian ketahui, Meta adalah mantan pacar Galang. Dua tahun yang lalu mereka berpisah karena Meta lebih memilih pria yang lebih segalanya baik dari moril maupun materiil dibanding Galang. Galang benar-benar terpukul atas kepergian Meta, perempuan yang dipacarinya selama empat tahun. Galang memang sudah menceritakan semuanya itu kepadaku saat pertama kali kita saling mengenal tapi aku tidak tahu kalau hubungan kita akan berakhir karena masalah Meta. Setelah berbicara dan kesepakatan bersama, aku memutuskan untuk break sampai dia benar-benar bisa melupakan Meta. Jujur aku sakit banget tapi aku akan lebih sakit bila meneruskan suatu hubungan dengan orang yang masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Aku pun langsung pulang sambil menangis, Galang berusaha mengejar aku tapi aku lebih memilih untuk pulang naik taxi dibanding pulang bersama dia.
Sesampai di rumah, aku langsung masuk kamar. Rasanya aku pengen banget teriak sekencang-kencangnya, aku merasa tidak adil karena orang yang paling aku sayang dan mengerti aku selama ini adalah orang yang membuat hati aku sakit.
Setelah keputusan aku dan Galang buat dua hari yang lalu, sungguh membuat hatiku hampa, kosong dan benar-benar tak berdaya. Aku belum terbiasa hidup tanpa Galang, aku sangat kangen. Tanpa terasa airmataku menetes lagi saat mengingat kenangan kita berdua. Galangn pun di tempat lain sudah mulai disibukan dengan aktivitasnya di dunia Perbankan. Aku pun juga menjalani hari-hariku sebagai seorang mahasiswi tapi aku merasa ada yang kurang, perhatian Galang dan semua larangan dia kalau aku berbuat yang macem-macem. Aku pengen sekali untuk mengirim pesan kepada Galang , walau hanya untuk sekedar mengingatkan dia amakn, atau say hello tapi tangan ini terasa berat untuk melakukan itu. Aku tersiksa, aku benar-benar tersiksa. Pengen teriak aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!
Galang pun membuat status "aku bukan pelampiasanmu disaat dia tidak ada", aku tahu banget status ini untuk siapa. Aku tidak tahu siapa yang dibodohi perasaannya oleh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar